
Hari ini seperti biasa sayah naik busway yang tercinta. Jalur baru di kantor baru. Tak ramai, namun bangku duduk sudah penuh sehingga sayah harus berdiri. Sayah seperti biasa memilih berdiri di tempat favorit, di sisi kiri bus, menempel ke pintu samping. Bersender ke lengan kiri, sementara tangan kanan bergelayutan ke pegangan di langit-langit bus. Sayah menatap ke luar, ke jalanan, sembari menikmati hangatnya matahari. Kedua kuping sayah -seperti biasa juga- tersumpal earphones. Setelah beberapa saat, tiba-tiba seorang perempuan muda menyenggol bahu sayah. Tak sengaja. Mulutnya mengucap sesuatu yang tak terdengar oleh sayah (kuping masih ber-earphones). Yang tampak hanya komat-kamit mulutnya seperti membentuk kata, “Sorry, sorry!” sambil tertawa-tawa. Sayah jadi melirik ke (samping) belakang sayah. Seorang pria muda lah yang membuat perempuan itu tertawa, dan menyenggol bahu saja. Semacam menggelitiki.
Selanjutnya, sayah “waspada” ehm … tentu sayah tak mau tersenggol cuma-cuma (he-he). Kini tanpa perlu melirik, jangkau pandang mata sayah bisa melihat keduanya intim. Ehm, maksud sayah, ekspresi mereka menunjukkan bahwa mereka mempunyai hubungan yang intim. Pacaran. Itu kesan sayah awal. Tapi untuk di tempat umum, rasanya memang terlalu intim.
Seperti peluk-pelukan; deskripsinya: pose si perempuan menyandarkan punggungnya ke dada si pria, pose si pria menciumi lengan si perempuan, pose si pria menggelitiki si perempuan. Sayah tak bisa dan memang tak mau mendengarkan apa yang mereka obrol, tapi sayah yakin pembicaraan seputar keintiman yang mereka miliki. Lha wong si perempuannya sering tersenyum-senyum, begitu pun sebaliknya. Dan tampaknya bukan sayah sendiri yang merasa … risih. Beberapa orang di dalam bus transjakarta itu, sayah perhatikan juga memberi tatapan yang tak biasa/tak suka pada mereka. Ha ha, untuk sekedar laporan sekilas pandangan mata rasanya yang sayah tulis terlalu detail ya.
Hak mereka itu. Sayah tak mau membahas norma.It was really their right to brought their intimacy outside. Irikah sayah? Bisa jadi. Ha ha. Because I’m a coward who doesn’t have any gut to show the relation that I have. Especially my relationship with Adh.
Kembali sayah tak mau membahas norma. Meski memang ini yang membuat sayah tak bisa menunjukkan hubungan sayah dengan Adh seperti sepasang pria dan perempuan tadi.
Yang bisa (dan biasa) kami lakukan hanyalah mencuri-curi kesempatan untuk bisa mengekspresikan hubungan yang kami miliki ketika sedang berada di luar a.k.a. tempat umum. Tak sampai peluk-pelukan. Paling hanya menggenggam tangan ketika kami berdampingan dalam bus; menutupi genggaman kami dengan jaket atau tas. Atau sedetik-dua detik menyelipkan beberapa jari ke telapak tangannya ketika berjalan di keramaian; membuatnya seolah ketidaksengajaan. Sayah kadang mengacak-acak rambutnya, memegang bahunya, atau memeluknya ketika kami akan berpisah di stasiun, terminal atau di pool travel. Pun ia seringpula menyandarkan kepalanya di bahu sayah ketika di bus, atau mengantri tiket dan menunggu keberangkatan kereta. Menjadikan ekspresi keintiman kami menjadi sewajar mungkin. We’re not ready to put it outside. We’re still staying inside our box.
Kami tak mengharap bisa terbuka segera. Ini yang kami punya kini. Dan kami … bahagia.
* Single ini dianggap sebagai self-deprecating public relations-nya George Michael pasca 6 bulan sebelumnya tertangkap di toilet umum Beverly Hills karena melakukan aktivitas seksual pada seorang pria.Lirik dan klipnya pun dibuat sebagai sindir satir George Michael atas kejadian yang menjernihkan sangkaan orang akan orientasi seksual mantan vokalis Wham ini. Di chart, lagu ini hanya mampu menapak tangga ke-2 UK Singles.
* Rating sayah: 3 bintang (manggut-manggut)








